Sabtu, 18 Januari 2014

HIBURAN PAGI

treeeeng,teeeng teng,
suara musik mulai berdendang keras di telinga
memecahkan kesunyian kamarku pagi ini

dung ding treng teeng druung dung teng,,
tidak seperti sayup-sayup merdu lagu-lagu jaman sekarang
terasa tak menggerakkan tubuhku tuk bergoyang
hanya sepintas terdengar menggetarkan hati

treet teng ting treet tong,,
kalah suara lalu lalang di jalan depan rumah
memutuskan perhatianku akan dunia luar

akhirnya satu lagu selesai
tapi sayang berganti dengan lagu yang tak kalah keras,,
oooh,,,
nyayian lagu kosidah di pagi ini
hiburan tersendiri di dalam hati

Jumat, 17 Januari 2014

Puisi Pagi Ini

Mentari mulai tersenyum
Badanku tidak meresponnya
Dia semakin meniggi dan memperkuat cahayanya,,
Tentu tidak memberiku effek sedikitpun

Aku tetap terbaring lesu,,
Bukan lemah kawan,
Hanya terlalu penat

Akhirnya aku mengakhiri percakapanku dengannya,,
dengan dua bandal ku tutup wajahku,
Terlelap lagi,,

Foto Melancong Ke G. Bromo Tahun Baru 2013



Lirik Lagu Bondan & Fade 2 Black Ya Sudahlah

Ketika mimpimu yg begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)

  *reff:
Apapun yg terjadi,
ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything's gonna be OKAY

yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan bersama jiwa, cita,cinta dan harapan
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada
ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak
karang namun ku tahu..
ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
Sempat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah yeeah..
dengar ku bernyanyi..
lalalalalala heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..
semua ini belum *****hir
   back to *reff 
satukan langkah..langkah yg beriring!
genggam hati, rangkul emosi!
Genggamlah hatiku, satukan langkah kita
Sama rasa, tanpa pamrih ini cinta..across the sea
peluklah diriku..terbanglah bersamaku,
melayang jauh.. (come fly with me, baby)
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yg menerima kelemahan hati yea..
aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)
satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yg ditunggu
BAHAGIA..HINGGA UJUNG WAKTU..
   back to *reff 3x

Uang Saku dari Kakek

Hai sob,, perkenalkan, namaku Pondi. Terlahir dari keluarga tidak miskin, kurang kaya,  tapi sederhana, ayah berdagang, ibu mengasuh aku di rumah, sejak kecil belajar susah, hanya bersikap pasrah (lho,,, ini kan lagunya Bondan, hehehe). Tapi itu memang benar tentang aku, tapi aku yakin 99% Bondan buat lagu itu bukan untukku, yaiyalah emangnya aku ini sapa??

Oke mari kita mulai ceritanya. Saat itu aku sedang berumur 7 tahun, umur dimana setiap anak merasa excited bangget dengan segala pernak-pernik sekolah yang baru dimasukinya (aku salah satunya) ditambah hari itu kakek dan nenekku dari Banyuwangi datang berkunjung kerumahku, dan kakek akan tinggal selama beberapa hari di rumahku. Aku menjadi exited2 (baca: exited kuadrat), betapa tidak?!! Seumur hidup, aku berkunjung kerumah kakekku di Banyuwangi kurang dari jumlah jari tanganku. Mungkin karna keluargaku belum mampu membeli kendaraan pribadi selain sepeda “MUSTANG” bapakku.

Saat kakek dan nenekku datang, aku tidak ikut menyambut kedatangan mereka karna aku sedang tidur siang (kehidupan tahun 90-an memang indah untuk anak seusiaku, karna aku tidak harus dikejar-kejar jadwal kursus seperti anak-anak jaman sekarang). Di dalam tidurku aku mendengar suara gelak tawa keluargaku yang sedang berkumpul tanpaku, yang bisa aku lakukan hanya semakin jauh melangkah ke dalam buaian mimpi.

Aku mendapat sapaan sayang dari kakek dan nenek, setelah tertidur dalam waktu yang tak terhitung, aku tidak punya stopwatch untuk menghitungnya dan aku juga tidak perlu melakukan hal sebodoh itu. Aku terbangun dengan pikiran yang masih terkatung-katung diantara alam mimpi dan alam nyate (ups sengaja). Wajahku tidak menjadi berseri-seri ketika aku sadar bahwa kakek dan nenek berada di dekatku, jelas aku tidak membutuhkan chemistry untuk hal ini. Cukup dengan bersalaman, cium tangan dan menyapa dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), mereka membalasnya dengan percakapan berbahasa Jawa Osing yang belum pernah aku temukan kamusnya hingga saat ini.

Setelah beberapa menit bercakap-cakap, kakek memberiku dua lembar uang bergambar perahu, untuk uang saku sekolah kata kakekku. Serta merta aku mengucapkan terima kasih dan aku pun pergi ke kamar mandi. Keadaan di sekitar rumah bilik bambuku mulai terang. Aku mandi sambil berjingkrat-jingkrat ria karna mendapatkan rejeki nomplok.
Aku mandi sedikit lebih cepat dari biasanya. Segera ku kenakan seragam putih merah kebanggaanku (aku sudah terbiasa mandiri sejak kecil). Aku mencari sepatuku dan langsung aku pasang menyelimuti kaki dan kaos kaki putihku. Kemudian ku ambil tas sekolahku. Tidak ada yang mengetahui apa yang ku perbuat saat ini. Yang ku tau aku akan berangkat sekolah dengan uang saku yang jarang ku terima dari orang tuaku (maklum keluargaku cukup bersyukur bisa makan sehari-hari).

Aku keluar dari arah belakang rumahku agar tidak ketahuan orang rumahku, karna aku ingin membuktikan bahwa aku cukup besar untuk mendapatkan kepercayaan memegang uang saku pemberian kakekku. Ku telusuri jalan samping rumah yang bersebelahan dengan pohon-pohon salak. Kemudian aku menuju depan rumah, tanpa basa-basi aku langsung berdiri di samping pagar  depan rumahku menunggu kak ikrom, tukang becak yang selalu mengantar jemput aku ke sekolah.

Aku merasakan hangat matahari dan sinarnya yang kekuningan. Sungguh bahagia dan bangga rasanya aku tidak perlu merepotkan orang tuaku untuk persiapan berangkat sekolah. Aku berdiri menempel tembok rumah tetangga sebelah dengan sebagian tubuhku dapat dengan mudah terlihat dari dalam rumah. Setelah sekian menit menunggu akupun mulai merasa lelah, tapi semangatku tak mudah padam hanya karna menuggu beberapa menit. Kemudian terdengar suara ibu dari dalam rumah. memanggil-manggil nama kecilku. Akhirnya bapak yang berhasil menemukanku berdiri sendiri di depan rumah.

“Mau kemana le (panggilan untuk anak laki-laki:jawa) ?? masuk sini udah hampir magrib, berangkat sekolahnya bukan sekarang, tapi besok pagi” kata bapak dengan nada kebapakannya.

Aku masih terdiam tidak bergeming. Aku merasakan aliran listrik dalam otakku melaju cepat. Namun aku belum mampu bergerak dari tembok yang aku sandari. Aku merasa hidupku tidak akan lama lagi bermandikan pujian kebanggan. Aku merasa jiwaku terpanggil oleh semacam chemistry layaknya Harry Potter ketika bertemu dengan Voldemort untuk pertama kalinya. Aku merasakan betapa terpuruknya jiwaku saat itu.

“ Ayo masuk No” suara lembut kakekku menghancur dinding es yang membekukanku “Kamu lupa ya kalo sekarang sore hari, hampir magrib, besok kakek antar kamu ke sekolah, sekarang masuk dulu kerumah. Kakmu kan harus ngaji?”

Dengan berjalan gontai aku mengikuti tangan kakek yang menuntunku ke dalam rumah. Mengapa matahari begitu kejam membohongiku dengan sinar fajarnya. Tapi ternyata itu bukan fajar, itu adalah cahaya senja.