Jumat, 17 Januari 2014

Uang Saku dari Kakek

Hai sob,, perkenalkan, namaku Pondi. Terlahir dari keluarga tidak miskin, kurang kaya,  tapi sederhana, ayah berdagang, ibu mengasuh aku di rumah, sejak kecil belajar susah, hanya bersikap pasrah (lho,,, ini kan lagunya Bondan, hehehe). Tapi itu memang benar tentang aku, tapi aku yakin 99% Bondan buat lagu itu bukan untukku, yaiyalah emangnya aku ini sapa??

Oke mari kita mulai ceritanya. Saat itu aku sedang berumur 7 tahun, umur dimana setiap anak merasa excited bangget dengan segala pernak-pernik sekolah yang baru dimasukinya (aku salah satunya) ditambah hari itu kakek dan nenekku dari Banyuwangi datang berkunjung kerumahku, dan kakek akan tinggal selama beberapa hari di rumahku. Aku menjadi exited2 (baca: exited kuadrat), betapa tidak?!! Seumur hidup, aku berkunjung kerumah kakekku di Banyuwangi kurang dari jumlah jari tanganku. Mungkin karna keluargaku belum mampu membeli kendaraan pribadi selain sepeda “MUSTANG” bapakku.

Saat kakek dan nenekku datang, aku tidak ikut menyambut kedatangan mereka karna aku sedang tidur siang (kehidupan tahun 90-an memang indah untuk anak seusiaku, karna aku tidak harus dikejar-kejar jadwal kursus seperti anak-anak jaman sekarang). Di dalam tidurku aku mendengar suara gelak tawa keluargaku yang sedang berkumpul tanpaku, yang bisa aku lakukan hanya semakin jauh melangkah ke dalam buaian mimpi.

Aku mendapat sapaan sayang dari kakek dan nenek, setelah tertidur dalam waktu yang tak terhitung, aku tidak punya stopwatch untuk menghitungnya dan aku juga tidak perlu melakukan hal sebodoh itu. Aku terbangun dengan pikiran yang masih terkatung-katung diantara alam mimpi dan alam nyate (ups sengaja). Wajahku tidak menjadi berseri-seri ketika aku sadar bahwa kakek dan nenek berada di dekatku, jelas aku tidak membutuhkan chemistry untuk hal ini. Cukup dengan bersalaman, cium tangan dan menyapa dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), mereka membalasnya dengan percakapan berbahasa Jawa Osing yang belum pernah aku temukan kamusnya hingga saat ini.

Setelah beberapa menit bercakap-cakap, kakek memberiku dua lembar uang bergambar perahu, untuk uang saku sekolah kata kakekku. Serta merta aku mengucapkan terima kasih dan aku pun pergi ke kamar mandi. Keadaan di sekitar rumah bilik bambuku mulai terang. Aku mandi sambil berjingkrat-jingkrat ria karna mendapatkan rejeki nomplok.
Aku mandi sedikit lebih cepat dari biasanya. Segera ku kenakan seragam putih merah kebanggaanku (aku sudah terbiasa mandiri sejak kecil). Aku mencari sepatuku dan langsung aku pasang menyelimuti kaki dan kaos kaki putihku. Kemudian ku ambil tas sekolahku. Tidak ada yang mengetahui apa yang ku perbuat saat ini. Yang ku tau aku akan berangkat sekolah dengan uang saku yang jarang ku terima dari orang tuaku (maklum keluargaku cukup bersyukur bisa makan sehari-hari).

Aku keluar dari arah belakang rumahku agar tidak ketahuan orang rumahku, karna aku ingin membuktikan bahwa aku cukup besar untuk mendapatkan kepercayaan memegang uang saku pemberian kakekku. Ku telusuri jalan samping rumah yang bersebelahan dengan pohon-pohon salak. Kemudian aku menuju depan rumah, tanpa basa-basi aku langsung berdiri di samping pagar  depan rumahku menunggu kak ikrom, tukang becak yang selalu mengantar jemput aku ke sekolah.

Aku merasakan hangat matahari dan sinarnya yang kekuningan. Sungguh bahagia dan bangga rasanya aku tidak perlu merepotkan orang tuaku untuk persiapan berangkat sekolah. Aku berdiri menempel tembok rumah tetangga sebelah dengan sebagian tubuhku dapat dengan mudah terlihat dari dalam rumah. Setelah sekian menit menunggu akupun mulai merasa lelah, tapi semangatku tak mudah padam hanya karna menuggu beberapa menit. Kemudian terdengar suara ibu dari dalam rumah. memanggil-manggil nama kecilku. Akhirnya bapak yang berhasil menemukanku berdiri sendiri di depan rumah.

“Mau kemana le (panggilan untuk anak laki-laki:jawa) ?? masuk sini udah hampir magrib, berangkat sekolahnya bukan sekarang, tapi besok pagi” kata bapak dengan nada kebapakannya.

Aku masih terdiam tidak bergeming. Aku merasakan aliran listrik dalam otakku melaju cepat. Namun aku belum mampu bergerak dari tembok yang aku sandari. Aku merasa hidupku tidak akan lama lagi bermandikan pujian kebanggan. Aku merasa jiwaku terpanggil oleh semacam chemistry layaknya Harry Potter ketika bertemu dengan Voldemort untuk pertama kalinya. Aku merasakan betapa terpuruknya jiwaku saat itu.

“ Ayo masuk No” suara lembut kakekku menghancur dinding es yang membekukanku “Kamu lupa ya kalo sekarang sore hari, hampir magrib, besok kakek antar kamu ke sekolah, sekarang masuk dulu kerumah. Kakmu kan harus ngaji?”

Dengan berjalan gontai aku mengikuti tangan kakek yang menuntunku ke dalam rumah. Mengapa matahari begitu kejam membohongiku dengan sinar fajarnya. Tapi ternyata itu bukan fajar, itu adalah cahaya senja.

2 komentar:

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang menghargai manusia lainnya.